Blog dan Artikel

Inklusif, Setara, dan Berdaya

Dari penyandang disabilitas, oleh penyandang disabilitas, dan untuk penyandang disabilitas.

Suara Kita dari Yayasan Kita Juga

Program yang Mendorong Perubahan.

SANKITA mengembangkan kerja kolaboratif yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Saat ini, SANKITA menjalankan berbagai program yang berfokus pada:

   

SANKITA Dorong Pembentukan Kelompok Inklusif di Tiga Desa untuk Memperkuat Ketahanan Ekonomi dan Sosial Masyarakat

 

 

 

Manggarai Barat, 2 Oktober 2026 — Yayasan Kita Juga (SANKITA) terus mendorong penguatan partisipasi masyarakat melalui pembentukan kelompok inklusif di desa-desa dampingan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat dengan memastikan perempuan, penyandang disabilitas, serta kelompok masyarakat lainnya memiliki ruang yang setara untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan desa.

 

Pembentukan kelompok inklusif tersebut dilaksanakan di tiga desa, yaitu Desa Watu Galang, Desa Golo Desat, dan Desa Cunca Lolos. Rangkaian kegiatan dimulai pada 29 September 2026, dilanjutkan di Desa Cunca Lolos pada 30 September 2026, dan di Desa Watu Galang pada 2 Oktober 2026.

 

Kegiatan ini tidak hanya diarahkan pada pembentukan kelompok secara administratif, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersama-sama mengidentifikasi kebutuhan, potensi, serta menyusun rencana aksi yang dapat dilakukan secara bersama di tingkat desa.

 

Menyusun Rencana Aksi secara Inklusif

Dalam proses pembentukan kelompok, masyarakat diajak untuk melihat pembangunan desa dari perspektif yang lebih inklusif. Setiap anggota kelompok memiliki kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan gagasan yang berkaitan dengan kehidupan sosial maupun ekonomi masyarakat.

 

Hasil diskusi kelompok kemudian dirumuskan ke dalam Rencana Aksi Komunitas Inklusif yang mencakup tiga pilar utama, yaitu dukungan sosial, penguatan kapasitas dan ekonomi kreatif, serta akses layanan penguatan ekonomi.

 

Pilar pertama, Dukungan Sosial, menekankan pentingnya membangun fondasi sosial yang kuat melalui penyusunan rencana kerja secara partisipatif dan inklusif. Masyarakat memandang bahwa peningkatan kesadaran mengenai kesetaraan gender dan hak-hak penyandang disabilitas merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih terbuka dan setara.

 

Edukasi dan sosialisasi tidak hanya ditujukan kepada kelompok masyarakat tertentu, tetapi juga kepada keluarga, organisasi masyarakat, dan instansi pemerintah di tingkat lokal. Dengan demikian, pemahaman mengenai kesetaraan dan inklusi diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

Selain itu, kelompok juga menempatkan penguatan hubungan antarwarga sebagai bagian penting dari rencana aksi. Perempuan dan penyandang disabilitas didorong untuk memiliki ruang yang lebih besar dalam mengembangkan potensi diri dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas.

 

Semangat solidaritas sosial juga menjadi perhatian kelompok. Salah satu gagasan yang muncul adalah melakukan penggalangan dana bagi masyarakat yang terdampak bencana alam sebagai bentuk kepedulian dan aksi kemanusiaan bersama.

 

 

Penguatan Keterampilan dan Ekonomi Kreatif

Pilar kedua adalah Penguatan Kapasitas dan Ekonomi Kreatif. Pilar ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis masyarakat sekaligus mengembangkan potensi ekonomi yang tersedia di desa.

 

Kelompok mengidentifikasi kebutuhan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan potensi lokal. Beberapa di antaranya adalah pengolahan jamu, pengolahan pangan berbasis produk lokal, serta keterampilan menenun.

 

Selain keterampilan produksi, penguatan kapasitas juga diarahkan pada pengembangan usaha. Pelaku UMKM didorong untuk mulai memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran produk sehingga jangkauan pasar tidak hanya terbatas pada lingkungan desa.

Pembenahan aspek logistik usaha juga menjadi bagian dari perhatian kelompok. Hal ini penting agar produk yang dihasilkan masyarakat dapat dipasarkan secara lebih efektif dan mampu menjangkau konsumen di luar wilayah desa.

 

Dalam pengembangan ekonomi kreatif keluarga, masyarakat juga melihat pentingnya kemampuan mengelola usaha secara lebih terencana. Karena itu, pelatihan manajemen dan penetapan target kerja menjadi salah satu kebutuhan yang diidentifikasi, termasuk pengenalan pendekatan Objectives and Key Results (OKR) secara sederhana sesuai dengan kebutuhan kelompok.

 

Akses Ekonomi yang Setara

Pilar ketiga adalah Akses Layanan Penguatan Ekonomi. Pilar ini menekankan pentingnya memastikan bahwa berbagai peluang dan layanan ekonomi dapat diakses secara adil oleh seluruh masyarakat.

 

Kelompok terlebih dahulu akan mengidentifikasi dan menyepakati kebutuhan bersama. Selanjutnya, akses terhadap layanan ekonomi diupayakan dapat diberikan tanpa diskriminasi, termasuk bagi penyandang disabilitas.

 

Digitalisasi juga dipandang sebagai salah satu cara untuk mempermudah pelayanan dan komunikasi kelompok. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan akses yang lebih luas terhadap permodalan usaha, baik melalui sumber pembiayaan yang tersedia maupun melalui kerja sama dan kemitraan dengan pihak lain.

 

Dengan demikian, kelompok inklusif tidak hanya menjadi wadah pertemuan masyarakat, tetapi diharapkan berkembang menjadi ruang bersama untuk membangun jejaring, mengembangkan usaha, memperluas akses layanan, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.

 

Dari Pembentukan Kelompok Menuju Aksi Bersama

Pembentukan kelompok inklusif di Watu Galang, Golo Desat, dan Cunca Lolos merupakan langkah awal untuk membangun proses yang lebih berkelanjutan. Melalui kelompok ini, masyarakat diharapkan dapat menyusun prioritas berdasarkan kebutuhan nyata di desa dan kemudian menerjemahkannya ke dalam kegiatan yang dapat dilakukan bersama.

 

Bagi SANKITA, pendekatan inklusif berarti memastikan bahwa perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat lainnya bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan.

 

Melalui proses tersebut, pembentukan kelompok inklusif di tiga desa diharapkan dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal secara lebih mandiri, setara, dan berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen SANKITA untuk terus mendorong terwujudnya masyarakat yang inklusif, berdaya, dan mampu membangun ketahanan sosial-ekonomi berdasarkan potensi dan kekuatan komunitasnya sendiri.

Bekerja Bersama Kami

Perubahan yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi.

SANKITA terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah, lembaga donor, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, lembaga pendidikan, komunitas, organisasi penyandang disabilitas, media, dan berbagai pihak lainnya.

Kami percaya bahwa setiap pihak memiliki pengetahuan, pengalaman, sumber daya, dan kekuatan yang dapat berkontribusi dalam menciptakan perubahan.

Pemerintah

 Lembaga Donor

Organisasi Masyarakat Sipil

Sektor Swasta

Lembaga Pendidikan

Komunitas

Organisasi Penyandang Disabilitas

Media

Organisasi Kemanusiaan

dan Berbagai pihak lainnya.

Bekerja Bersama Kami

Mari Bersama Membangun Manggarai Barat

Kami terbuka untuk berkomunikasi, berdiskusi, dan membangun kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah, lembaga donor, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, lembaga pendidikan, komunitas, maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.


Apabila Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai program SANKITA, menjajaki peluang kerja sama, menyampaikan pertanyaan, memberikan informasi, atau berdiskusi mengenai kebutuhan masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat, silakan menghubungi kami.
 

SANKITA mengajak Anda untuk menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat Manggarai Barat yang inklusif, mandiri, tangguh, sehat, berkeadilan, dan berkelanjutan.